Rabu, 20 Januari 2021

PENANTIAN DI AKHIR SENJA

 PENANTIAN DI AKHIR SENJA

Oleh : Achmad Nizar Ws


          Di suatu sore yang indah, saat burung-burung kembali ke sarangnya, saat jalanan kembali dipenuhi oleh kendaraan yang sejak tadi pagi berlalu-lalang. Kupustuskan untuk jalan-jalan ke kota utama. Untuk sejenak meninggalkan tumpukan tugas-tugas kuliahku. Ketika sampai ditaman, mataku secara tidak sengaja tertuju kepada seorang gadis yang tengah duduk di kursi taman. wajahnya tertunduk, dan terdengar ada sedikit isak tangis darinya. Hati ini bergetar, siapa yang membuatnya menangis?.

          Seakan tertarik oleh magnet, aku mendekati gadis itu tampa sadar, dan kemudian duduk di dekatnya. “kenapa, kok kamu nangis?” tanyaku sembari ku berikan sapu tangan kepadanya.

          Kupikir mungkin dia mau berbagi masalahnya denganku. Tetapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir manisnya. Tiba-tiba dia memelukku, akupun kaget karena tidak menyangka dia akan bereaksi seperti itu.

          Dia menangis sejadi-jadinya di pelukanku, sedangkan aku hanya bisa terdiam dan tidak bisa bereaksi apa-apa walaupun aku merasa tidak nyaman dipeluk oleh seorang gadis yang tidak ku kenal ditaman. Tampa terasa lima belas menit telah berlalu, isaknya pun perlahan menghilang. Perlahan dia mulai melepas pelukannya, mengusap bekas tangis di kedua pipi merahnya.

          “thanks, ya.....”. ucapnya tertunduk malu. Sepertinya dia baru menyadari apa yang telah dilakukannya barusan.

          “sama-sama” jawabku sembari tersenyum kepadanya.

          Suasana menjadi hening, tidak ada sepatah kata yang keluar dari kami berdua untuk membuka percakapan. Tak lama kemudian, sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat didepan kami. Gadis itu bangkit dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya menuju mobil hitam tadi. Seakan ia mengerti maksud kedatangan mobil itu, dengan tampa menoleh sedikitpun atau sekedar tersenyum padaku. Dia pun masuk dan perlahan mulai menghilang dari pandanganku.

          Embun pagi masih terasa sangat dingin. Di waktu sepagi ini aku sudah harus berangkat ke kampus, dan aku putuskan untuk mengambil jalan memutar melewati taman kota berharap agar bisa kembali melihat gadis itu duduk disana, disebuah kursi panjang tepat dibawah pohon besar nan rindang. Dan benar saja, aku kembali melihat dia disana dengan kesedihan yang tetap terpancar dari wajah cantiknya. Aku kembali menghampirinya dan duduk disampingnya, tapi lagi-lagi mobil hitam itu datang dan membawanya pergi. Kejadian ini terjadi hampir setiap kali aku menghampirinya, dan duduk didekatnya barang kali semenit lamanya.

          Waktu demi waktu berlalu, senyum dan kebahagiaan sedikit demi sedikit mulai terpancar di wajahnya, entah karena aku yang selalu menghibur dan memberinya semangat atau karena hal lain. kami pun mulai dekat dan selalu bersama, selalu bersama? Tidak juga, kami memang bertemu hampir setiap hari tapi sedikit waktu yang kami habiskan bersama, hanaya sekitar 10 menitan. Aku bertemu dengannya, kadang pagi sekali ketika akan berangkat ke kampus, atau sore sepulang dari kampus, dan kadang juga saat ingin membeli kebutuhan sehari-hari. Aku ceritakan padanya pengalamanku, cita-citaku,dan hal-hal konyol yang pernah aku alami, kuceritakan semuanya. Dia hanya mendengarkan sambil lalu tersenyum dan tertawa. Aku lebih banyak berbicara, sedangkan dia lebih memilih menjadi pendengar setia. Kalimat terpanjangnya hanya disaat terakhir kali aku melihatnya, selebihnya hanya diisi dengan anggukan, gelengan, dan tawa renyahnya. Meski senyum yang hilang diwajahnya kembali, tetapi dia tetap tidak banyak berbicara. Ada sesuatu yang tumbuh dihatiku seiring dengan berjalannya waktu, entah kenapa aku semakin merasa nyaman berada didekatnya. Hari-heri terasa berjalan lebih cepat sejak saat pertama kali aku bertemu dengannya.D

          Dipagi yang masih ditemani oleh kicauan burung, seperti biasa kami menghabiskan waktu bersama, hanya saja kali ini dengan waktu yang lebih lama. Panas matahari sudah mulai tearasa, setelah lelah dengan segala hal yang kami lakukan, kamipun merebahkan tubuh diatas hijaunya rerumputan dibawah pohon yang rindang.

          “dit, thanks banget kamu udah bikin aku senang selama ini” ucapannya menusuk relung hatiku, membuatku kegirangan bahagia karenanya.

          “sama-sama putri, aku juga senang bisa bantu mengurangi masalah kamu” jawabku. Tampa sedikitpun menoleh ke arahnya, dan tetap menatap indahnya langit cerah hari ini. Kami bangun dari rebahan kami, kupegang jari-jari lentiknya berniat untuk mengungkapkan perasaanku padanya, tapi mau apa dikata, mobil yang biasa menjemputnya sudah datang sebelum aku sempat menyatakan perasaanku padanya.

          Pagi ini awan hitam pekat sudah menyelimuti kota ini, seakan mau menumpahkan miliaran butiran air. Bagi sebagian orang, mereka munkin akan mengurungkan niatnya untuk pergi keluar rumah. Tetapi tidak untukk, tak sedikitpun hal itu mengurangi semangatku untuk pergi ketaman seperti biasa. Hari ini, seharusnya gadis itu ada di sana, ditempat biasa dia duduk, tapi sekarang tidak ada siapapun yang berada disana, dikursi dibawah pohon ridang itu. Aku duduk menunggunya, berfikir munkin dia akan tiba sebentar lagi. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam kulalui dengan kehampaan dan kekosongan menantikan kehadirannya, hingga matahari sudah sepenggalah, dan aku mulai berfikir bahwa dia tidak akan datang, oleh karena itu kupustuskan untuk pulang dan kembali besok saja. Saat aku berdiri, ternyata ada sepucuk surat yang lusuh yang sendari tadi aku duduki. Aku tidak tahu dari siapa surat itu, dan untuk siapa. Karena penasaran akupun mengambil dan membacanya.

Teruntuk kamu yang telah menemaniku

Adit....

Tidak ada ucapan lain selain selain rasa terima kasih

Atas semua uang telah kamu berikan padaku

Dari menemaniku, pengertian kepada ku sampai

Aku bisa tertawa bahagia karena tinngkahmu

Meskipun kebersamaan kita hanya sebentar

Tapi seandainya kamu tahu

Karna kebersamaan yang singkat itu

Hatiku bisa memunculkan perasaan yang mungkin hanya aku yang merasakannya

Adit.....,

Mungkin surat ini akan menjadi hal terakhir dari untukmu

Dan mungkiin kedepannya kita tidak akan bisa bertemu lagi

Hanya kata maaf yang bisa aku luapkan diakhir urat ini

Maafkan aku dit......


          Badanku bergetar, mataku berkaca-kaca. Kalaupun ini adalah akhir ceritaku dengan putri, aku hanya bisa menunggu dan terus menunggu hingga waktu menghapusku dari dunia ini.


Tamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar